Assalamualaikum wr.wb
Hallo teman-teman semua!
Semoga semua dalam keadaan sehat walafiat ya..Aamiin
Kali ini saya mau review kembali nihh pembelajaran tentang Desain Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis Dalam Bidang Sains.
Mau tau apa saja yang akan dibahas? Yukk baca dan simak sampai selesai😊
Sebelumnya sudah ada yang pernah dengar belum pembelajaran kolaboratif itu apa?
Nah, jadii..
Pembelajaran kolaboratif merupakan sebuah proses di mana peserta didik pada berbagai tingkat kemampuan (kinerja) bekerja sama dalam kelompok kecil menuju tujuan bersama.
Dimana sangat penting untuk menetapkan grup permanen dengan anggota maksimal 5 orang. Jumlah anggota tersebut akan lebih memaksimalkan materi yang sedang disampaikan.
Selanjutnya, Dalam implementasinya, model pembelajaran kolaborasi memiliki beberapa indikator, diantaranya:
1. Kemampuan kepemimpinan dan bekerjasama dalam kelompok.
Peserta didik yang memiliki jiwa kepemimpinan, maka ia akan mampu membimbing dan mengarahkan teman-teman kelompoknya, seperti memberi saran terkait cara pemecahan masalah, membimbing teman-temannya untuk mencapai tujuan bersama, menasehati teman untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, dan masih banyak lagi. Jiwa kepemimpinan yang tertanam dalam diri peserta didik dapat menjadi bekal untuk membangun kerjasama yang baik dalam kelompok agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.
2. Kemampuan bertanggung jawab dalam pemberian tugas
Guru dapat melatih kemampuan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam pengerjaan tugas melalui pemberian penugasan baik secara individu ataupun kelompok. Dalam penugasan kelompok, pemberian tugas pada setiap anggota cenderung dilakukan. Oleh karena itu, setiap anggota harus bisa bertanggungjawab untuk mengerjakan bagiannya masing-masing.
Jika terdapat anggota kelompok yang tidak mengerjakan tugasnya maka bisa mendapat sanksi/punishment. Dengan adanya sanksi, maka peserta didik akan lebih termotivasi untuk bertanggungjawab mengerjakan tugasnya.
3. Kemampuan bekerja secara produktif dengan pihak lain
Peserta didik yang bekerja secara produktif akan mampu memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia sehingga dapat menghasilkan output yang maksimal.
Bekerja secara produktif dengan pihak lain berarti bekerja bersama-sama secara produktif untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.
4. Kemampuan menempatkan empati pada tempatnya
Empati termasuk suatu kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain. Orang yang memiliki rasa empati akan mencoba membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah. Melalui bimbingan kelompok, guru dapat melatih peserta didik dalam mengolah dan mengembangkan emosi kearah yang baik dan melahirkan perilaku empati.
5. Menghormati perbedaan perspektif
Dalam pembelajaran kolaboratif, setiap peserta didik pasti memiliki pendapat atau pemikiran masing-masing. Tapi, peserta didik juga dituntut untuk mampu menghargai pendapat orang lain agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Penerapan model pembelajaran kolaboratif dapat diterapkan dengan berbagai macam metode. Sejauh ini terdapat beberapa metode yang umum digunakan, diantaranya:
1. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Metode Cooperative Learning Stuctures (CLS) dapat membagi peserta didik menjadi dua peran. Ada peserta didik yang bertugas untuk mengajukan pertanyaan dan ada peserta didik yang bertugas untuk menjawab pertanyaan. Sebelum melaksanakan metode Cooperative Learning Stuctures (CLS), guru dan peserta didik perlu menentukan aturan, pertanyaan dan poin permainan. Dalam penerapan Cooperative Learning Stuctures (CLS), peserta didik dapat berganti peran.
2. Group Investigation (GI)
Metode Group Investigation (GI) merupakan metode yang beorientasi pada pembelajaran berbasis masalah. Setiap anggota kelompok dituntut agar bisa merencanakan sebuah penelitian yang berkaitan dengan topik atau materi pelajaran.
Dalam memecahkan masalah, semua anggota kelompok memiliki peran dan tugasnya masing-masing.
3. Complex Instruction(CI)
Metode Complex Instruction (CI) berfokus pada pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada penemuan. Metode ini bertujuan agar peserta didik dapat fokus untuk mengeksplorasi satu topic atau materi secara mendalam dan aplikatif.
Umumnya, metode Complex Instruction (CI) digunakan pada mata pelajaran matematika, IPA, dan IPS. Complex Instruction (CI) cocok digunakan di kelas dengan peserta didik yang heterogen. Penilaian metode belajar Complex Instruction (CI) berdasarkan kinerja dan hasil kerja kelompok.
4. Academic-Constructive Controversy (AC)
Metode Academic-Constructive Controversy (AC) berfokus pada proses pembelajaran studi kasus. Setiap kelompok dibawa pada suatu studi kasus atau permasalahan yang memiliki beberapa pilihan solusi. Setiap kelompok dituntut untuk memiliki argument dan alasan yang logis yang bisa dipertahankan dengan menjelaskan alasan kenapa memilih pilihan tersebut.
Metode ini berorientasi pada pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan logis, hubungan antar pribadi, serta kecakapan berkomunikasi dalam mengemukakan pendapat.
5. Learning Together (LT)
Metode Learning Together merupakan metode yang membagi peserta didik secara acak dalam berbagai kelompok.
Setiap kelompok akan diberikan tugas atau studi kasus. Selanjutnya setiap anggota kelompok akan bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.
6. Learning Together (LT) dapat bermanfaat untuk mengasah pengetahuan, bernalar, dan bekerjasama dalam tim dan untuk penilaiannya didasarkan pada hasil kerja kelompok dan kualitas jawaban.
7. Teams Games Tournament (TGT)
Dalam istilah Indonesia, metode ini disebu juga dengan cerdas cermat. Jadi, perwakilan terbaik dari masing-masing kelompok akan saling beradu untuk menjawab pertanyaan dan menyelesaikan misi yang diberikan. Tim yang memperoleh poin tertinggi maka akan menjadi pemenangnya.
Agar permainan lebih aktif dan menarik, guru bisa membuat kuis yang bervariasi. Jadi , perlombaan yang dilaksanakan tidak hanya berupa soal atau pertanyaan tetapi juga berupa permainan yang dapat mengasah ketangkasan dan kreativitas peserta didik.
8. Jigsaw Procedure (JP)
Metode Jigsaw Procedure (JP) akan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Kemudian tiap anggota kelompok akan mendapatkan tugas dan kasus yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu pokok bahasan (topik).
Setelah itu, setiap kelompok akan mendapatkan tes menyangkut keseluruhan materi. Tujuan dari metode ini adalah agar bisa mengetahui kelompok mana yang telah memahami topik atau materi secara mendalam. Penilaian pada metode ini didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
Baiklah, selanjutnya Manfaat dari pembelajaran kolaboratif yaitu :
1. Prestasi belajar yang lebih tinggi
2. Pemahaman yang lebih mendalam
3. Belajar yang lebih menyenangkan
4. Mengembangkan keterampilan kepemimpinan
5. Meningkatkan sikap positif
6. Meningkatkan harga diri
7. Belajar secara inklusif
8. Merasa saling memiliki
9. Mengembangkan keterampilan masa depan
Sekian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam pengampaian. Terima kasih😊🙏🏻
Tidak ada komentar:
Posting Komentar