Kamis, 14 Desember 2023

Implementasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Kelemahan Model Kooperatif, Kolaboratif, Quantum Learning

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarakatuh

Salam pendidikan,

Berbicara tetang pendidikan, maka tidak bisa lepas dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik di sekolah. Dalam proses pembelajaran saat ini, begitu banyak model-model pembelajaran yang diterapkan, diantaranya model kooperatif, kolaboratif dan kuantum. Salah satu model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran abad 21 untuk melatih kemampuan 4C (creative thingking, critical thingking, collaboration dan communication) adalah model Problem-based Learning.

Pembelajaran melalui model Problem-based Learning dilakukan dengan menyajikan masalah dan meminta peserta didik untuk menganalisis, serta menyelesaikan masalah tersebut. Aplikasi model ini dilaksanakan pada mata pelajaran IPA di kelas VIII semester 1 dengan materi pelajaran gangguan pada sistem pencernaan, serta upaya pencegahannya.

1. Aplikasi model pembelajaran sains berbasis disrupsi inovasi melalui tutor sebaya.

Model pembelajaran yang digunakan adalah model Problem Based Learning (PBL). Pembelajaran melalui model ini dilakukan dengan menyajikan masalah dan meminta peserta didik untuk menganalisis, serta menyelesaikan masalah tersebut. Aplikasi model ini dilaksanakan pada mata pelajaran IPA di kelas VIII semester 1 dengan materi pelajaran gangguan pada sistem pencernaan, serta upaya pencegahannya. 

Sintak atau langkah-langkah model pembelajaran PBL yakni, sebagai berikut:

a) Orientasi masalah: guru menyajikan video pembelajaran dan meminta peserta didik menyimak video tersebut. Kemudian, guru meminta peserta didik mengidentifikasi masalah yang ada dalam video yang telah disajikan.

b) Mengorganisasi peserta didik: guru membagi peserta didik dalam kelompok belajar, membagikan LKPD dan menjelaskan tugas diskusi kelompok. Guru juga meminta peserta didik untuk menuliskan permasalahan yang ditemukan dalam video pada LKPD.

c) Membimbing penyelidikan: guru membimbing diskusi kelompok belajar peserta didik. Kemudian, guru kembali menampilkan video berisi materi pelajaran dan meminta peserta didik memperhatikan. Guru juga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya terkait tugas yang belum dimengerti. 

d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya: guru menanyakan progress diskusi kelompok dan membimbing peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang telah diidentifikasi di langkah awal pembelajaran.

e) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah: guru memberikan kesempatan setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi. Kemudian, guru mengevaluasi dan menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan.

Untuk lebih jelasnya, aplikasi model pembelajaran PBL dalam pembelajaran disajikan dalam video berikut:



Model-model pembelajaran kolaboratif, kooperatif dan kuantum memiliki banyak kelebihan, diantaranya menjadikan suasana kelas menjadi lebih hidup, peserta didik lebih aktif, melatih kerjasama siswa, menumbuhkan sikap tanggung jawab individu dalam kelompok, meningkatkan kemampuan berpikir siswa baik berpikir kritis maupun kreatif, mengasah kemampuan pemecahan masalah siswa, dan melatih keaktifan siswa dalam proses belajar-mengajar karena pembelajaran berpusat pada siswa (student center). Namun, jika tidak disiapkan dengan baik oleh guru, model pembelajaran kooperatif, kuantum dan kolaboratif dapat menjadi menimbulkan masalah dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang menjadi kelemahan model-model tersebut. Lebih lengkapnya tentang analisis praktis kelemahan model pembelajaran kooperatif, kuantum dan kolaboratif dijelaskan dalam video berikut:

2. Analisis praktis kelemahan model-model pembelajaran: kooperatif, kuantum dan kolaboratif.




Terima Kasih

Wassalamualaikum wr.wb






Jumat, 29 September 2023

Desain Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis Dalam Bidang Sains

 Assalamualaikum wr.wb

Hallo teman-teman semua!

Semoga semua dalam keadaan sehat walafiat ya..Aamiin

Kali ini saya mau review kembali nihh pembelajaran tentang Desain Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis Dalam Bidang Sains.

Mau tau apa saja yang akan dibahas? Yukk baca dan simak sampai selesai😊

Sebelumnya sudah ada yang pernah dengar belum pembelajaran kolaboratif itu apa? 

Nah, jadii..

Pembelajaran kolaboratif merupakan sebuah proses di mana peserta didik pada berbagai tingkat kemampuan (kinerja) bekerja sama dalam kelompok kecil menuju tujuan bersama.

Dimana sangat penting untuk menetapkan grup permanen dengan anggota maksimal 5 orang. Jumlah anggota tersebut akan lebih memaksimalkan materi yang sedang disampaikan.

Selanjutnya, Dalam implementasinya, model pembelajaran kolaborasi memiliki beberapa indikator, diantaranya:

1. Kemampuan kepemimpinan dan bekerjasama dalam kelompok. 

Peserta didik yang memiliki jiwa kepemimpinan, maka ia akan mampu membimbing dan mengarahkan teman-teman kelompoknya, seperti memberi saran terkait cara pemecahan masalah, membimbing teman-temannya untuk mencapai tujuan bersama, menasehati teman untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, dan masih banyak lagi. Jiwa kepemimpinan yang tertanam dalam diri peserta didik dapat menjadi bekal untuk membangun kerjasama yang baik dalam kelompok agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud.

2. Kemampuan bertanggung jawab dalam pemberian tugas

Guru dapat melatih kemampuan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam pengerjaan tugas melalui pemberian penugasan baik secara individu ataupun kelompok. Dalam penugasan kelompok, pemberian tugas pada setiap anggota cenderung dilakukan. Oleh karena itu, setiap anggota harus bisa bertanggungjawab untuk mengerjakan bagiannya masing-masing.

Jika terdapat anggota kelompok yang tidak mengerjakan tugasnya maka bisa mendapat sanksi/punishment. Dengan adanya sanksi, maka peserta didik akan lebih termotivasi untuk bertanggungjawab mengerjakan tugasnya.

3. Kemampuan bekerja secara produktif dengan pihak lain

Peserta didik yang bekerja secara produktif akan mampu memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia sehingga dapat menghasilkan output yang maksimal.

Bekerja secara produktif dengan pihak lain berarti bekerja bersama-sama secara produktif untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

4. Kemampuan menempatkan empati pada tempatnya

Empati termasuk suatu kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain. Orang yang memiliki rasa empati akan mencoba  membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah. Melalui bimbingan kelompok, guru dapat melatih peserta didik dalam mengolah dan mengembangkan emosi kearah yang baik dan melahirkan perilaku empati.

5. Menghormati perbedaan perspektif

Dalam pembelajaran kolaboratif, setiap peserta didik pasti memiliki pendapat atau pemikiran masing-masing. Tapi, peserta didik juga dituntut untuk mampu menghargai pendapat orang lain agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.


Penerapan model pembelajaran kolaboratif dapat diterapkan dengan berbagai macam metode. Sejauh ini terdapat beberapa metode yang umum digunakan, diantaranya:

1. Cooperative Learning Stuctures (CLS)

Metode Cooperative Learning Stuctures (CLS) dapat membagi peserta didik menjadi dua peran. Ada peserta didik yang bertugas untuk mengajukan pertanyaan dan ada peserta didik yang bertugas untuk menjawab pertanyaan. Sebelum melaksanakan metode Cooperative Learning Stuctures (CLS), guru dan peserta didik perlu menentukan aturan, pertanyaan dan poin permainan. Dalam penerapan Cooperative Learning Stuctures (CLS), peserta didik dapat berganti peran.

2. Group Investigation (GI)

Metode Group Investigation (GI) merupakan metode yang beorientasi pada pembelajaran berbasis masalah. Setiap anggota kelompok dituntut agar bisa merencanakan sebuah penelitian yang berkaitan dengan topik atau materi pelajaran.

Dalam memecahkan masalah, semua anggota kelompok memiliki peran dan tugasnya masing-masing.

3. Complex Instruction(CI)

Metode Complex Instruction (CI) berfokus pada pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada penemuan. Metode ini bertujuan agar peserta didik dapat fokus untuk mengeksplorasi satu topic atau materi secara mendalam dan aplikatif.

Umumnya, metode Complex Instruction (CI) digunakan pada mata pelajaran matematika, IPA, dan IPS. Complex Instruction (CI) cocok digunakan di kelas dengan peserta didik yang heterogen. Penilaian metode belajar Complex Instruction (CI) berdasarkan kinerja dan hasil kerja kelompok.

4. Academic-Constructive Controversy (AC)

Metode Academic-Constructive Controversy (AC) berfokus pada proses pembelajaran studi kasus. Setiap kelompok dibawa pada suatu studi kasus atau permasalahan yang memiliki beberapa pilihan solusi. Setiap kelompok dituntut untuk memiliki argument dan alasan yang logis yang bisa dipertahankan dengan menjelaskan alasan kenapa memilih pilihan tersebut.

Metode ini berorientasi pada pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan logis, hubungan antar pribadi, serta kecakapan berkomunikasi dalam mengemukakan pendapat.

5. Learning Together (LT)

Metode Learning Together merupakan metode yang membagi peserta didik secara acak dalam berbagai kelompok.

Setiap kelompok akan diberikan tugas atau studi kasus. Selanjutnya setiap anggota kelompok akan bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

6. Learning Together (LT) dapat bermanfaat untuk mengasah pengetahuan, bernalar, dan bekerjasama dalam tim dan untuk penilaiannya didasarkan pada hasil kerja kelompok dan kualitas jawaban.

7. Teams Games Tournament (TGT)

Dalam istilah Indonesia, metode ini disebu juga dengan cerdas cermat. Jadi, perwakilan terbaik dari masing-masing kelompok akan saling beradu untuk menjawab pertanyaan dan menyelesaikan misi yang diberikan. Tim yang memperoleh poin tertinggi maka akan menjadi pemenangnya.

Agar permainan lebih aktif dan menarik, guru bisa membuat kuis yang bervariasi. Jadi , perlombaan yang dilaksanakan tidak hanya berupa soal atau pertanyaan tetapi juga berupa permainan yang dapat mengasah ketangkasan dan kreativitas peserta didik.

8. Jigsaw Procedure (JP)

Metode Jigsaw Procedure (JP) akan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok. Kemudian tiap anggota kelompok akan mendapatkan tugas dan kasus yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu pokok bahasan (topik).

Setelah itu, setiap kelompok akan mendapatkan tes menyangkut keseluruhan materi. Tujuan dari metode ini adalah agar bisa mengetahui kelompok mana yang telah memahami topik atau materi secara mendalam. Penilaian pada metode ini didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.

Baiklah, selanjutnya Manfaat dari pembelajaran kolaboratif yaitu :

1. Prestasi belajar yang lebih tinggi

2. Pemahaman yang lebih mendalam

3. Belajar yang lebih menyenangkan

4. Mengembangkan keterampilan kepemimpinan

5. Meningkatkan sikap positif

6. Meningkatkan harga diri

7. Belajar secara inklusif

8. Merasa saling memiliki

9. Mengembangkan keterampilan masa depan


Sekian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam pengampaian. Terima kasih😊🙏🏻

Rabu, 27 September 2023

DESAIN PEMBELAJARAN DISRUPSI INOVASI MELALUI IoT

 Assalamualaikum wr.wb


Hallo teman teman semua✌🏻

Saya Sonia Angellina Saputri kembali untuk meriview pembelajaran tentang Desain Model Pembelajaran Disrupsi Inovasi melalui IoT.

Simak sampai habis yaa..

Nah sebelumnya apasih yang dimaksud disrupsi itu?

Jadi  disrupsi adalah perubahan yang terjadi pada sektor pendidikan saat pandemi sangatlah menonjol dan hingga saat ini masih terus melakukan perubahan masif dari segi sistem dan tatanan pendidikan agar pendidikan di Indonesia terus maju. Perubahan yang sangat besar ini disebut dengan era disrupsi pendidikan, masa di mana perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan karena adanya inovasi yang begitu hebat sehingga mengubah sistem dan tatanan kehidupan masyarakat secara luas.


Selanjutnya, mari kita lihat contoh-contoh dari model pembelajaran ini🤩

1. Disrupsi Teknologi Digital di Bidang Kesehatan

        Dahulu, masyarakat perlu mendaftar secara manual dan mengantri cukup lama di klinik untuk berkonsultasi dengan dokter. Akan tetapi berkat hadirnya teknologi, sekarang orang dapat dengan mudah membuat janji dengan dokter. Sudah banyak aplikasi konsultasi virtual bersama dokter yang dapat digunakan untuk langsung membuat janji temu dalam satu kali klik. Selain itu, Anda juga dapat berkonsultasi secara online dan mendapatkan resep obat dengan mudah sesuai anjuran, lalu resep tersebut bisa juga ditebus tanpa perlu datang ke apotek.

2. Disrupsi Teknologi Digital di Bidang Keuangan (Finance)

        Dalam artikel Kami mengenai disrupsi inovasi dari fintech, telah dijelaskan bagaimana sepak terjang teknologi dalam mempengaruhi industri keuangan. Profesi seperti teller bank disebut-sebut akan hilang di masa depan karena bisa digantikan oleh teknologi. Sekarang kita bisa membuka akun rekening baru di mana saja tanpa melihat alamat domisili. Proses verifikasi dilakukan melalui video call dan rekening yang didapatkan pun tidak jauh berbeda dengan rekening biasa. 

Fitur setor dan tarik tunai bisa dilakukan seperti biasa melalui mesin ATM atau di Authorized Merchant yang ditunjuk oleh bank. Selain itu, pengajuan kredit juga sudah bisa dilakukan secara online, sehingga jangkauan penyaluran kredit ke masyarakat akan jauh lebih luas.

3. Disrupsi Teknologi Digital pada Layanan Pelanggan (Customer Service)

        Sebelum hadirnya chatbot, proses layanan pelanggan bisa dibilang cukup merepotkan. Anda perlu menghubungi kode nomor operator, kemudian melakukan penerusan panggilan ke tim terkait. Proses ini selain rumit, juga cukup memakan waktu dan biaya.

Sejak munculnya teknologi chatbot, baik pelanggan maupun perusahaan bisa saling berkomunikasi dengan lebih efektif. Beberapa pertanyaan bisa dijawab secara otomatis oleh bot, dan tim Costumer service hanya perlu menangani pertanyaan yang memang tidak bisa diselesaikan dengan mudah.

Pelanggan juga bisa bertanya 24 jam, sebab bot tidak perlu beristirahat dan tetap bisa menjawab dengan kecepatan dan ketepatan yang sama. 

4. Disrupsi Teknologi Digital di Bidang Pendidikan

        Di masa lampau, pendidikan (terutama profesi) tentu tidak bisa diakses oleh semua orang dengan mudah. Anda perlu mendaftar ke lembaga pendidikan yang terpercaya, lalu mengikuti serangkaian kursus yang panjang. Namun, belum tentu semua pembelajaran itu bisa Anda terapkan langsung di lapangan.Dengan bantuan teknologi, masalah tersebut bisa teratasi. Sekarang sudah tersedia berbagai aplikasi pelatihan online, yang bahkan digunakan juga oleh pemerintah Indonesia dalam pemerataan pendidikan.

5. Disrupsi Teknologi Digital di Bidang Retail

Sejak kemunculan toko online dan platform e-commerce, industri ritel diketahui harus merumuskan ulang strategi mereka agar tetap bisa bertahan dan mendapatkan pelanggan mereka kembali. Seperti yang sudah diketahui bahwa belanja online saat ini menawarkan pengalaman yang jauh lebih praktis dibandingkan dengan mengunjungi toko secara langsung. Anda juga bisa mendapatkan review produk dan toko secara real time, yang tidak bisa Anda dapatkan jika Anda hanya mengunjungi toko fisik.


Jadi? Udah paham belum dengan penjelasan diatas?

Kita lanjut yaa..

Saat ini, Siap atau tidak siap, digitalis memang telah mengubah banyak budaya dan bertransformasi ke dunia digital.  Meskipun tidak mematikan hal mendasar sebelumnya, namun perubahan tersebut seperti menjadi peralihan dan alternatif baru yang sesuai dengan perkembangannya.

Beberapa dampak disrupsi teknologi yang positif dalam bisnis, mungkin bisa menjadi peluang brilian bagi perusahaan. Contoh perubahan culture akibat kemajuan teknologi sudah diterapkan dalam berbagai sektor bisnis besar, seperti:

1. Keberadaan aplikasi nonton streaming yang bisa diakses secara online via smartphone atau PC (YouTube, Netflix, Iflix, Disney+ Hotstar, Vidio, dan lain-lain) membawa perubahan budaya nonton TV secara manual

2. Layanan transportasi online (Gojek, Grab, Maxim, inDriver, dan sebagainya) memberikan kemudahan mobilitas masyarakat luas, cukup dengan melakukan pemesanan via HP

3. Adanya marketplace (Tokopedia, Shopee, Lazada, dan lain-lain) menjadi ruang baru bagi para pebisnis, baik B2C (Business to Customer) atau C2C (Customer to Customer)

4. M-banking sebagai layanan perbankan online (Jenius by BTPN, Livin’ by Mandiri, blu by BCA, hingga BRImo by BRI)

5. Kehadiran dompet digital atau e-wallet sebagai kebiasaan baru dan kemudahan berbelanja secara cashless (Flip, Dana, hingga OVO)

Disrupsi dipandang sebagai transformasi besar-besaran yang mampu mengubah kebiasaan, cara-cara terdahulu, hingga gaya hidup. 

Dengan demikian, apasih faktor yang menjadi penyebabnya? 

Yang pertama 

1. Tren Teknologi Digital

Contoh disrupsi digital dan teknologi yang dapat dengan mudah kita temukan dan sekaligus membawa kita menuju era baru:

a. Perubahan tren moda transportasi menjadi online

b. Perubahan tren cara pembayaran menjadi digital

c. Terdapatnya fitur tarik tunai di segala tempat

d. Transaksi jual beli yang bisa terjadi di mana saja tanpa batasan ruang

2. Masifnya Pengunaan Internet

Setelah kemunculan teknologi internet, cikal-bakal segala kemudahan dimulai dari sini. Hingga di era saat ini, perkembangan tersebut dikenal dengan revolusi 4.0.

Bahkan bukan hanya manusianya saja yang terhubung, kini berbagai ekosistem pun saling terkoneksi. Contohnya kemunculan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI), hingga penggunaan Internet of Things (IoT).

3. Perubahan Perilaku Masyarakat

Perubahan tidak akan dengan mudah diterapkan jika kebiasaan masyarakatnya tidak berubah.

Kemunculan teknologi pada dasarnya memang untuk memudahkan aktivitas manusia. Dari keunggulannya ini, akhirnya ada kebiasaan atau tatanan yang berubah.

Dampak Era Disrupsi dalam dunia bisnis dan industri ini menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, hal ini bisa menggairahkan dan menciptakan peluang baru, namun di sisi lain bisa juga menjadi ancaman yang mengubah alur kompetisi yang sudah ada.

Sebenarnya, banyak dampak yang timbul karena adanya disrupsi digital dan teknologi ini, baik dari sisi kehidupan bermasyarakat ataupun dalam dunia industri. Beberapa di antaranya adalah:

1. Disrupsi digital teknologi membawa berbagai kemudahan

2. Persaingan bisnis menjadi semakin ketat dan nyata untuk dihadapi

3. Dunia diharuskan cepat beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang muncul

4. Disrupsi mengharuskan perusahaan untuk menyesuaikan model bisnis yang sebelumnya konvensional menuju modern

5. Bisnis dan perusahaan juga diharuskan untuk selalu mengembangkan produknya (Product Development) sesuai respon pasar.

Itulah penjelasan hasil review pembelajaran saya, komentar, kritik, saran dan masukan dari teman teman sangat saya harapkan dalam penyampaian ini. Semoga kedepan lebih baik lagii🤝

Terima kasih😊

Jumat, 22 September 2023

QUANTUM LEARNING

Assalamualaikum wr.wb

Hallooo guys!

Saya Sonia Angellina Saputri P2A523029 Magister Pendidikan IPA Universitas Jambi.

Kali ini akan membahas Model Pembelajaran Quantum Learning.

Simak sampai habis yaaa😊

Apasih model Pembelajaran Quantum Learning itu?

Model pembelajaran Quantum Learning adalah suatu strategi dan kiat belajar yang memadukan unsur seni, faktor potensi diri dan lingkungan belajar sehingga proses belajar siswa menjadi lebih meriah, menyenangkan dan bermanfaat. Quantum learning merupakan metode yang mengedepankan suasana yang nyaman, menyenangkan selama proses pembelajaran.

Model pembelajaran quantum learning pertama kali dikenalkan oleh Georgi Lozanov, yaitu seorang ahli saraf, psikiater, psikolog dan pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen mengenai suggestology atau suggesto-pedia. Menurut Lozanov, sugesti dapat mempengaruhi hasil situasi belajar. Beberapa teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif antara lain yaitu mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, dan menggunakan media pembelajaran untuk memberikan kesan besar sambil menonjolkan informasi.


Nah sekarang sudah tau belum Quantum Learning ini pertana dikenalkan oleh siapa?


Kita lanjut yaa..

Aspek-aspek Quantum Learning 

Menurut DePoter dan Hernacki (2011), terdapat beberapa aspek yang harus ada di dalam model pembelajaran quantum learning, antara lain yaitu sebagai berikut:

a. AMBAK (Apa Manfaat Bagi Ku) 

Segala sesuatu yang diinginkan pelajar harus menjanjikan manfaat bagi pelajar tidak akan termotivasi melakukannya. Motivasi ini di sebut sebagai AMBAK. Menemukan AMBAK sama dengan menemukan minat dalam sebuah hal yang dipelajari, dengan menghubungkan ke dalam dunia nyata. Jadi konsep AMBAK dapat diartikan sebagai motivasi yang di dapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat dari suatu keputusan. Sebelum pembelajaran berlangsung siswa diberikan gambaran tentang manfaat dan hasil belajar bagi siswa dalam implementasinya dalam kehidupan sehari-hari maupun keuntungan di masa yang akan datang.

b. Penataan lingkungan belajar 

Cara menata perabotan, cahaya dan bantuan visual di dinding, dan papan iklan, semua merupakan kunci bagi siswa yang menerapkan Quantum Learning untuk menciptakan lingkungan dengan baik, akan menjadi sarana yang dilakukan dengan baik dan bernilai dalam membangun dan mempertahankan sikap positif. Pengaturan lingkungan belajar ini sebagai langkah awal yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar secara menyeluruh. Setiap individu memiliki kesenangan yang berbeda dalam menentukan lingkungan belajar. Akan tetapi individu yang dapat berinteraksi dengan lingkungan semakin mudah dalam mempelajari informasi-informasi baru, karena dapat memperbanyak memori tentang lingkungan sekitar, sehingga dapat digunakan untuk berinteraksi pada perubahan lingkungan selanjutnya.

c. Musik 

Musik juga dapat dipergunakan untuk membantu di dalam belajar siswa yang suka mendengarkan musik untuk mengombinasikan pendengaran dalam belajar. Para siswa mengungkapkan bahwa stimulus-stimulus dari alunan musik ini membuat puas, walaupun mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkannya. Musik sangat penting dalam Quantum Learning, karena sebenarnya musik berhubungan dan mempengaruhi kondisi psikologis. Selama melakukan pekerjaan mental yang berat, tekanan darah dan denyut jantung cenderung meningkat. Gelombang otot meningkat, otot menjadi tegang, selama relaksasi dan meditasi, denyut jantung dan tekanan darah menurun, dan anda benar-benar relaks, dan sulit relaks ketika anda berkonsentrasi.

d. Sikap positif terhadap kegagalan 

Aset berharga dalam proses belajar menurut quantum learning adalah sikap positif. Kalau individu memiliki harapan yang tinggi terhadap dirinya, harga diri yang tinggi. Cara setiap individu dalam memandang masalah adalah sebuah hal penting dalam pembelajaran, biasanya kegagalan akan membuat individu merasa akan merasa bodoh, sedih, dan berhenti dalam upaya pencapaian tujuan. Sebenarnya di balik sebuah kegagalan ada informasi-informasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan. Untuk menekankan sikap positif pada setiap individu maka dibutuhkan umpan balik dari kita, bahwa setiap hal yang berhasil maka di dalamnya selalu didahului kegagalan kecil.

Prinsip-prinsip Quantum Learning 

Menurut DePorter dan Hernacki (2011), model pembelajaran quantum learning terdiri dari lima prinsip utama, yaitu sebagai berikut: 

  1. Segalanya berbicara. Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru (tatapan mata, gerakan tangan dan sebagainya), kertas yang dibagikan, rancangan pelajaran, alat bantu mengajar semuanya mengirim pesan tentang belajar. 
  2. Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi dalam pengetahuan anda mempunyai tujuan semuanya.
  3. Pengalaman sebelum pemberian nama. Otak kita berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks, yang akan menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari. 
  4. Akui setiap usaha. Belajar mengandung risiko. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan. Pada saat mengambil langkah ini, mereka patut mendapatkan pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka. 
  5. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan adalah sarapan pelajar juara. Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

Langkah-langkah Quantum Learning 

Menurut DePorter, Reardon dan Nurin (2000), terdapat enam langkah utama dalam pelaksanaan model pembelajaran quantum learning yang dikenal dengan istilah TANDUR, yaitu: 

  1. T = Tumbuhkan. Tumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan rasa ingin tahu siswa dalam bentuk Apakah Manfaatnya BAgiku (AMBAK). Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati siswa, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke alam pikiran anda, yakinlah siswa mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan. 
  2. A = Alami. Unsur alami akan mendorong hasrat alami otak untuk menjelajah. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua siswa. Jangan sampai anda menggunakan istilah yang asing dan sulit untuk dimengerti, karena ini akan membuat siswa merasa bosan dalam belajar. 
  3. N = Namai. Setelah siswa melalui pengamatan belajar pada kompetensi dasar tertentu, mereka kita ajak untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat, dan sebagainya. 
  4. D = Demonstrasikan. Setelah siswa mengalami belajar akan sesuatu, beri kesempatan kepada mereka untuk mendemonstrasikan kemampuannya, karena siswa akan mampu mengingat 90% jika siswa itu mendengar, melihat dan melakukannya. Melalui pengalaman belajar siswa akan mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan dan informasi yang cukup. 
  5. U = Ulangi. Rekatkan keseluruhan materi pelajaran, tunjukan kepada para siswa tentang cara-cara mengulangi materi dan menegaskan "aku tahu bahwa aku memang tahu ini". Pengulangan sebaiknya di lakukan dengan konsep Multi kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Misalkan jika tadi dicontohkan dengan belajar bersepeda dan kemudian jatuh, maka setelah anda bisa menyeimbangkan diri maka anda akan mampu menggunakannya. Anda benar-benar menguasai apa yang anda lakukan. 
  6. R = Rayakan. Perayaan adalah ekspresi dari kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan suatu tugas atau kewajiban dengan baik. Maka sudah selayaknya jika siswa sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik untuk dirayakan dengan bertepuk tangan.

Kelebihan dan Kekurangan Quantum Learning 

Setiap model pembelajaran umumnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu juga dengan model pembelajaran quantum learning. Menurut Shoimin (2014), kelebihan dan kekurangan model pembelajaran quantum learning adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan 

Kelebihan atau keunggulan model pembelajaran quantum learning adalah: 

  1. Dapat membimbing siswa ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama. 
  2. Karena quantum learning lebih melibatkan siswa, saat proses pembelajaran perhatian siswa dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti.
  3. Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
  4. Proses pembelajaran menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
  5. Siswa didorong untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan dapat mencoba melakukannya sendiri. 
  6. Karena model pembelajaran quantum learning membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan bawaan siswa untuk belajar, secara tidak langsung guru terbiasa untuk berpikir kreatif setiap harinya.
  7. Pelajaran yang diberikan oleh guru mudah diterima atau dimengerti oleh siswa.

b. Kekurangan 

Kekurangan atau kelemahan model pembelajaran quantum learning adalah: 

  1. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain. 
  2. Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik. 
  3. Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa, baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian, dll dapat mengganggu kelas lain. 
  4. Banyak memakan waktu dalam hal persiapan. 
  5. Model ini memerlukan keterampilan guru secara khusus karena tanpa ditunjang hal itu, proses pembelajaran tidak akan efektif.
  6. Agar belajar dengan model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Namun kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

Terima kasih😊

Kamis, 14 September 2023

REVIEW VIDIO PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW

 Assalamualaikum wr.wb


Hallo Sahabat Belajar!

Saya Sonia Angellina Saputri P2A523029 

Kembali dengan mengirimkan Review Vidio Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw bersama dengan Tim Kelompok 1.

Selamat menyaksikan!

Jangan lupa tonton Vidio dan Simak sampai habis yaaa teman-teman.

https://drive.google.com/drive/folders/11T-iGgAC-NWlsV0lUzg0ZQBQsA6-Xpjk

Gimana? Sudah tonton vidionya sampai selesai belum?

Hayooo coba teman-teman komentar dibawah apa saja kekurangan dan kelebihan Model Pembelajaran Jigsaw melalui Contoh Vidio yang kelompok kami gunakan?

Terima Kasih sudah menonton. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tunggu in terus Informasi selanjutnya ya..

Semangattt 

Wassalamualaikum wr.wb

5 Prinsip Pembelajaran Cooperative Learning

 Assalamualaikum wr.wb

Saya Sonia Angellina Saputri Nim P2A523029 Prodi Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jambi. 

Kembali lagi pada review Mata kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Pada Topik “5 Prinsip Pembelajaran Cooperative Learning”





Dalam Cooverative Learning ada 5 aspek yaitu: 

1. Individu accountability
Siswa melakukan pekerjaan terbaik mereka, berbagai ide dan membantu kelompok secara efesien.

2. Group processing
Mencoba untuk mengkritisi kekurangan dan kelebihan atau dengan merefleksikan proses pembelajaran efektivitas kontribusi anggota dalam kelompok meningkat.

3. Interpersonal and sosial skill
Siswa saling bekerja sama, saling percaya dan menyelesaikan konflik secara konstruktif untuk mencapai tujuan bersama.

4. Promotive interaction
Siswa membantu dan berinteraksi satu sama lain untuk memecahkan masalah.

5. Positive interdependence
Siswa bekerja sebagai kelompok yang kohesif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang disepakati atau saling melengkapi.


Dalam Cooperative Learning ada 7 komponen penting yaitu:
1. Increased Autonomy
Menjadi otonomi atau meningkatkan kemandirian
2. Increased independence
Menjadi pribadi yang independen
3. Heighteried self confidence
Percaya diri
4. Transfer of knowledge
Berbagai ilmu pengetahuan
5. Higher level reasoning
Memiliki kemampuan yang kuat
6. Increased productivity
Menjadi produktif
7. Higher student achievement
Menjadikan sukses dan banyak ilmu yang sudah dikuasai.


Kemudian, bagaimana peran guru?

Teacher's Role 
1. Before the lesson
- Pastikan tujuan pembelajaran yang jelas 
- mengidentifikasi masalah
- Tentukan bahan-bahan yang diperlukan untuk kelompok.


2. Developing Student' sosial skill
Melatih sosial skill
- Bekerja sama dengan tenang dalam tugas tim
- Yang tidak terselesaikan mencoba untuk mencari solusi atau minta penjelasan bulan jawaban
- Dengarkan baik baik pertanyaan rekan satu tim
- Mintalah bantuan satu tim jika membutuhkan
- Saling membantu untuk menyelesaikan tugas



Teamwork Skill ada 4 bagian yaitu:
1. Forming skill
2. Functioning skill
3. Formulating skill
4. Fermenting skill


Demikian yang dapat saya sampaikan hasil review mata Kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sain. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih😊




Jumat, 08 September 2023

MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS

Hallo leader!


Saya Sonia Angellina Saputri Mahasiswi Universitas Jambi Program Studi Magister Ilmu Pengetahuan Alam akan mereview informasi mengenai Pembelajaran Model dan Evaluasi Sains di Minggu Pertama.


Dosen Pengampu Dr. Drs. Syamsurizal,M.Si


Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan tersebut mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia, baik itu cara hidup, cara pandang atau pendekatan terhadap permasalahan, termasuk juga ide dan cita-cita.


Kemajuan ilmu pendidikan dan teknologi pada saat ini tidak terlepas dari peran pendidikan, dan pendidikan merupakan bagian hakiki dari kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.


Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam menghadapi dan mengantisipasi kehidupan masyarakat di masa depan. Pendidikan juga berfungsi menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan linkungan sosial, budaya dan, alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.


Secara umum, tujuan pendidikan adalah memberikan pengalaman belajar meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotor secara bermakna, yang berfungsi menyiapkan siswa menjalani kehidupan dalam era global yang sangat kompleks ini. Untuk itu, pendidikan yang relevan harus berstandar pada empat pilar pendidikan, yaitu 1) learning to know, yakni siswa mempelajari pengetahuan, 2) learning to do, yakni siswa menggunakan pengetahuannya untuk mengembangkan keterampilan, 3) learning to be, yakni siswa belajar menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk hidup, dan 4) learning to live together, yakni siswa belajar untuk menyadari adanya saling ketergantungan. Pendidikan saat ini harus mampu membekali setiap pebelajar dengan pengetahuan, keterampilan, serta nilai-nilai dan sikap, di mana proses belajar bukan semata-mata mencerminkan pengetahuan tetapi mencerminkan keempat pilar di atas.


Guru mempunyai peranan yang sangat menentukan karena guru memegang kendali utama untuk keberhasilan tercapainya tujuan. Oleh sebab itu, guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode, menggunakan media dan mengalokasikan waktu. Pada kenyataannya sebagian besar sekolah masih menggunakan metode ceramah yaitu proses pembelajaran di sekolah yang berlangsung hanya berorientasi pada memorisasi bahan-bahan pelajaran dan interaksi belajar mengajar yang berjalan secara searah. Fungsi dan peranan guru menjadi sangat dominan. Di lain pihak siswa hanya menyimak dan mendengarkan informasi atau pengetahuan yang diberikan guru. Ini menjadikan kondisi yang tidak proporsional. Guru sangat aktif, tetapi sebaliknya siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Selama ini siswa hanya diperlakukan sebagai objek sehingga siswa kurang dapat mengembangkan potensinya.

Demikian yang dapat saya sampaikan, Terima kasih.

Implementasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Kelemahan Model Kooperatif, Kolaboratif, Quantum Learning

Bismillahirrahmanirrahiim Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarakatuh Salam pendidikan, Berbicara tetang pendidikan, maka tidak bisa lep...